INDAR JAYE DARMAJI
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Suku sasak memiliki berbagai macam tradisi, diantaranya seperti nyongkolan, sorong serah, nyeput dan lain sebagainya. Menurut kepercayaan suku sasak, sebelum melaksanankan ritual nyeput diperlukannya andang-andang (syarat yang harus dipenuhi) seperti bokor kuning (wadah kuningan) yang terisi air dan berbagai macam bunga yang mudah diperoleh, buah, beras, leqoq (daun sirih) dan lain-lain. Setelah andang-andang sudah disediakan maka barulah ritual nyeput dilakukan dengan cara membaca naskah kuno dengan cara ditembangkan.
Perjalanan kedua saya dengan teman-teman adalah untuk mengetahui maupun mengikuti ritual nyeput . Narasumber perjalanan pertama saya di desa Telagawaru sudah tidak dapat membaca naskah kuno yang dimilikinya karena faktor usia, sehingga mengharuskan saya dan teman-teman untuk mencari narasumber baru. Dalam perjalanan kedua ini saya telah menemui tiga narasumber dengan alamat yang berbeda. Narasumber pertama kami adalah bapak Zakaria yang beralamat di Puyung, Lombok Tengah. Beliau sebagai narasumber pertama, kami dapatkan dari salah satu paman teman kami. Sesampainya kami dikediaman beliau, saya terkejut karena mendapati beliau sedang menulis aksara kawi di papan. Beliau sepertinya salah paham terkait dengan tujuan kami datang. Sebelum kami meluruskan mengenai tujuan kami datang, beliau sudah mulai menjelaskan kami mengenai aksara kawi. Dalam penjelasan beliau mengenai aksara kawi, saya mendapatkan pengetahuan baru seperti ha, na ca, ra, ka yang berarti ada utusan; da, ta, sa, wa, la berarti membawa amanat; ma, ga, ba, tha, nga berarti badannya sama besar dan terakhir pa, dha, ja, ya, nya berarti sama kekuatannya. Setelah kami menjelaskan maksud dan tujuan kami dan menanyakan perihal naskah kuno lontar beliau mengatakan bahwa tidak memilikinya tetapi memiliki naskah yang sudah di bukukan.
Setelah mengetahui bahwa narasumber pertama tidak mengetahui ihwal ritual nyeput, kami pun pergi ke narasumber kedua, yaitu bapak Andri dari Selebung, Mantang, Lombok Tengah. Narasumber kedua kami ini memiliki naskah kuno berupa lontar, tetapi naskah tersebut sedang tidak ada di rumahnya. Kami sedikit berbincang dengan beliau ihwal ritual nyeput. Dan ternyata beliau mengetahui ritual tersebut, tetapi beliau tidak dapat melakukannya. Beliau hanya dapat membaca dan memaknainya tetapi tidak dapat melakukan ritual tersebut, sehingga kami mencari narasumber yang lain.
Narasumber ketiga atau dapat dikatakan sebagai narasumber terakhir kami, yaitu bapak Lalu Salamudin berasal dari Darmaji, Lombok Tengah. Beliau memiliki beberapa naskah kuno lontar yang salah satunya kami gunakan adalah naskah Indar Jaye sama seperti naskah pada perjalanan pertama saya. Tetapi, dalam hal ini beliau menggunakan buku tentang naskah Indar Jaye. Beliau mengatakan bahwa nyeput dapat juga dilakukan tanpa ritual. Sehingga cara yang
beliau gunakan adalah dengan memilih secara acak lembaran dengan sembarang dan memilih satu baris pada lembaran tersebut dengan sembarang juga. Sebelum melakukan hal tersebut kami di sarankan untuk berniat atau membuat sebuah pertanyaan di dalam hati. Setelah melakukannya barulah salah satu dari kami membuka dan memilih sembarang seperti yang sudah dijelaskan tadi.
Saya tidak tahu persis halaman mana dan baris keberapa yang saya dapatkan, hanya saja saya mendapatkan jawaban/baris atas pertanyaan saya yang berbunyi “laik ate adik de ni ku serahan” yang artinya adalah saya menyerahkan hati saya. Jika dilihat dari kalimat tersebut maksudnya seperti pasrah atau percaya bahwa semua sudah diatur oleh-Nya.
Pendekatan yang menurut saya cocok dengan ritual nyeput adalah pendekatan pragmatik. Maksudnya adalah naskah tersebut dapat menyampaikan jawaban sesuai dengan pertanyaan di dalam hati. Sehingga dapat dikatakan naskah tersebut menjadi sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca atau penikmatnya. Tetapi seperti yang kita ketahui bahwa pendekatan ini cenderung menilai dari keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu kepada pembaca atau penikmat.
Terimakasih.
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.



Mantul bu. Panjang betul neee
BalasHapus😊
HapusMasyaAllah.
BalasHapusLugas dan informatif. Terima kasih atas kerja kerasnya kakak
BalasHapusIyaaa
HapusHasil tak kan menghianati proses Fan,
BalasHapusSemangat berproses semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca
Aamiin
Hapuscantik sekali tulisannya, kayak orangnya
BalasHapusMantap Fani!!! ><
BalasHapusJangan lupa mampir di saya juga ya eheheh Mifta
Tetap semangat
BalasHapusSemoga dengan hasil nyeput itu, selalu di jadikan pengalaman hidup yang berharga,apapun hasilnya tetapi tetaplah berbuat baik dan introspeksi diri. Bermanfaat bagi pembaca 😊
BalasHapusMantap
BalasHapus